Senin, 02 Februari 2015

Kejujuran seorang pemulung (Cerpen)

KEJUJURAN SEORANG PEMULUNG

Didesa yang rindang serta damai ini hidup seorang anak yang dari keluarga kurang mampu anak tersebut bernama beni. Iya hidup dengan ibunya dan satu adiknya. Dulu iya memang hidupnya sangat berkecukupan semenjak ayahnya meninggal karena kecelakaan akhirnya keluarga beni mengalami penurunan keuangan, dan iya pun tidak melanjutkan sekolahnya yang sudah smp. Sekrang iya bekerja mengais rezeki dari memulung.
          Dan pada suatu hari ketika iya memulung beni menemukan sebuah dompet yang setelah dibuka ternyata berisi uang banyak serta kartu penting, akhirnya iya bawa pulang dengan wajah gembira iya memberi tau kepada ibunya tentang kejadian tersebut.
       “bu liat yang beni bawa” kata beni.
       “ben itu dompet siapa? Bayak uangnya serta kartu penting.” Balas ibu beni.
       “iya bu kita ambil saja apa bu?” kata beni.
       “janga ben pasti orangnya sedang mencar barang tersebut” jawab ibu beni.
       “yaudah terserah ibu saja” kata beni.
Dan akhirnya beni bersama ibunya berniat mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya, setelah melihat kartu tanda penduduk milik orang tersebut, mereka melihat alamat si pemilik dompet. Dan mereka pergi ketempat yang telah tertera.
       “tok tok tok, assalamu’alaikum” kata bu beni
        “wangalaikum salam, maaf ibu ini siapa yah?” saut pak aji.
        “apakah ini betul rumah pak aji? Ini saya yang menemukan dompet
bapak” kata bu beni.
        “oh ya saya pak aji, oh isinya kok masih komplit.” Jawab pak aji.
        “iya belum saya ambil.” Kata bu beni
        “maksih banyak bu, udah ngembaliin dompet saya.” Saut pak aji
        “ini bu sebagai imbalan atas kebaikan ibu.” Kata pak aji.
        “ngga usah pak saya ikhlas kok.” Jawab bu beni.
          Atas kebaikan ibu beni akhirnya pak aji memberikan uang 500 ribu, namun ibu beni menolaknya. Sebagai balas budi kepada ibu beni, pak aji memberikan tempat untuk keluarga bu beni. Beni melanjutkan sekolahnya. Dan merek hidup bahagia bersama.
TAMAT





                                                          Pengarang : Mochamad Rizki Aji



                   

0 komentar:

Posting Komentar